NASA Berhasil Menangkap Galaksi Terjauh Berkat Lensa Gravitasi

label
Saat ini, perkembangan teknologi sangatlah pesat dan dari perkembangan tersebut, kita bisa mengetahui banyak pengetahuan termasuk pengetahuan tentang alam semesta. Lembaga astronomi Amerika Serikat, NASA, telah berhasil mendapatkan gambar galaksi terjauh berkat kamera dari teleskop luar angkasa Hubble yang dibantu oleh fenomena lensa gravitasi. Fenomena lensa galaksi merupakan fenomena pembelokan cahaya yang disebabkan karena terdapat objek gravitasi antara sumber cahaya dengan pengamat.

NASA berhasil menangkap galaksi tersebut dan menamai galaksi tersebut dengan nama SPT0615-JD. Galaksi ini termasuk galaksi kuno karena lahir saat 500 juta tahun setelah alam semesta lahir. Artinya galaksi ini lahir setelah 500 juta tahun dari kejadian ledakan dahsyat (Big Bang). Meskipun galaksi lain yang serupa sudah ditemukan selama ini, kita belum dapat menangkap gambar yang berbeda dari galaksi-galaksi ini karena jaraknya yang sangat jauh dari Bumi. Galaksi yang jauh ini biasanya menyerupai titik merah yang tak terlihat, namun karena lensa gravitasi, para astronom dapat menangkap gambaran yang jelas tentang SPT0615-JD.

Galaksi Terjauh Yang Ditemukan, SPT0615-JD
Galaksi Terjauh Yang Ditemukan, SPT0615-JD
Sumber: NASA/ESA/B. Salmon (STScI)
Galaksi ini dapat terlihat berkat fenomena lensa gravitasi yang terjadi karena terdapat objek gravitasi di depan galaksi sehingga cahayanya membelok dan melingkar menjadi lensa kosmik raksasa. Hal tersebut menyebabkan galaksi di belakang objek gravitasi menjadi tampak lebih cerah dan lebih fokus. Karena SPT0615-JD terletak persis di belakang medan gravitasi dari gugus galaksi di depannya, para peneliti mampu meneliti galaksi ini lebih detail dari perkiraan. Namun, medan gravitasi lensa juga dapat mendistorsi penampilan galaksi target, yang menyebabkan gambar tampak sebagai garis yang sedikit melengkung (Kemungkinan panjang hingga 2 detik busur).

Para astronom sudah menggunakan metode lensa gravitasi untuk mencari galaksi yang tidak terdeteksi dengan teleskop standar atau observatorium. Namun menurut Astronom dan Peneliti di Space Telescope Science Institute, Brett Salmon, ia mengatakan bahwa "Tidak ada calon galaksi lain yang ditemukan pada jarak yang begitu jauh sampai ada potongan informasi yang ditunjukkan oleh gambar busur ini. Dengan menganalisis efek lensa gravitasi terhadap citra galaksi ini, kita dapat menentukan ukuran dan bentuk yang sebenarnya dari galaksi ini."

Analisis awal Salmon yang dibuat dengan data Hubble dan Spitzer memperkirakan bahwa kamera tersebut menangkap gambar galaksi SPT0615-JD mirip seperti kejadian yang terjadi pada 13,3 miliar tahun yang lalu, sekitar setengah miliar tahun setelah peristiwa Big Bang. Dengan begitu, dapat diketahui bahwa SPT0615-JD memiliki berat maksimum 3 miliar solar massa, kira-kira sebesar 1/100 massa Bima Sakti, dan panjangnya tidak lebih dari 2.500 tahun cahaya. Sebagai perbandingan, panjang Bima Sakti adalah 100.000 tahun cahaya. Statistik seperti ini menjadikannya contoh tipikal dari galaksi muda lainnya yang terbentuk setelah peristiwa Big Bang.

Sementara itu, untuk mengidentifikasi galaksi ini tergolong kategori mungkin (walaupun sulit) dengan Hubble. Untuk kedepannya, identifikasi galaksi sejenis ini akan menjadi lebih mudah begitu teleskop luar angkasa NASA James Webb yang akan dioperasikan dalam waktu mendatang. Berkat Spektroskopi yang maju, para astronom dapat mempelajari galaksi jauh dan dalam dengan lebih detail dan halus, serta dapatt emberikan lebih banyak informasi tentang pembentukan bintang dan galaksi pada awal alam semesta.

Share This :

Saya adalah seorang article writer dan kontributor di tanahpengetahuan.com. Sama seperti author, saya ingin mengedukasi masyarakat Indonesia akan pengetahuan.

Related Post



sentiment_satisfied Emoticon