Hampir semua orang pernah mengalaminya: baru beberapa detik mengiris bawang merah, mata terasa perih, lalu air mata mengalir tanpa bisa ditahan. Lucunya, bawang yang masih utuh di dapur tidak membuat siapa pun menangis. Barulah ketika pisau menembus lapisan-lapisannya, air mata mulai berjatuhan.
Ternyata ini bukan kebetulan, melainkan senjata kimia bawang merah yang memang dirancang untuk membuat siapa pun yang merusaknya "menangis". Mari kita bedah apa yang sebenarnya terjadi di tingkat molekuler setiap kali kita mengiris bawang.
Bawang Merah Adalah "Bom" Kimia yang Terbelah Dua
Kunci dari fenomena ini adalah cara bawang menyimpan zat-zatnya. Di dalam sel bawang yang masih utuh, ada dua komponen yang disimpan di kompartemen terpisah:
- Senyawa belerang (amino acid sulfoxides), terutama yang bernama 1-propenyl-L-cysteine sulfoxide (disingkat PRENCSO). Ini adalah bahan bakunya.
- Enzim alliinase dan lachrymatory factor synthase. Ini adalah "pemicu"-nya.
Selama bawang masih utuh, dinding sel memisahkan bahan baku dari enzimnya, sehingga tidak ada reaksi apa pun yang terjadi. Bawang di atas meja dapurmu benar-benar tidak berbahaya.
Namun begitu pisau merobek sel-sel bawang, dinding pembatas itu runtuh. Bahan baku dan enzim bercampur, dan reaksi kimia pun dimulai. Pepatah dari para ilmuwan: yang membuatmu menangis bukanlah bawang — melainkan kamu sendiri yang merakitnya dengan pisau.
Dari Pisau Sampai Air Mata: Rantai Reaksinya
Begitu sel bawang rusak, reaksinya berlangsung dalam tiga tahap yang sangat cepat:
1. Alliinase bekerja: bahan baku dipecah
Enzim alliinase langsung memecah senyawa PRENCSO menjadi asam sulfenat (1-propenylsulfenic acid), amonia, dan piruvat. Asam sulfenat ini sangat tidak stabil — ia tidak bertahan lama dalam bentuknya semula.
2. Enzim kedua muncul: lachrymatory factor synthase
Inilah bagian yang paling menarik. Para ilmuwan selama puluhan tahun mengira alliinase sendirilah yang menghasilkan gas air mata. Baru pada tahun 2002, penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature oleh Imai dan rekan-rekannya membuktikan bahwa ada enzim kedua yang sebelumnya tidak diketahui: lachrymatory factor synthase (LFS).
Enzim inilah yang menyusun ulang asam sulfenat menjadi produk akhirnya: gas bernama syn-propanethial-S-oxide. Inilah "zat lakrimator" — senyawa yang secara khusus merangsang kelenjar air mata.
3. Gas naik ke mata dan meledakkan pertahanan
Syn-propanethial-S-oxide bersifat volatile, artinya mudah menguap ke udara. Gas ini melayang naik dari talenan ke wajahmu, lalu larut dalam lapisan air yang menutupi permukaan mata.
Di sana, gas tersebut berubah menjadi asam sulfenat dalam jumlah yang sangat kecil — cukup untuk mengiritasi ujung-ujung saraf di kornea, tetapi jauh di bawah ambang yang bisa merusak mata. Saraf mengirim sinyal ke otak, dan otak memerintahkan kelenjar lakrimal (kelenjar air mata) untuk memproduksi air mata dalam jumlah banyak.
Sederhananya: air matamu adalah upaya matamu untuk membilas iritan keluar. Tangisan itu bukan kelemahan — melainkan sistem pertahanan matamu yang bekerja tepat sesuai jadwal.
Mengapa Bawang Merah, Bawang Bombay, dan Bawang Putih Berbeda Efeknya?
Semua jenis bawang dari genus Allium memiliki mekanisme yang mirip, tetapi intensitasnya berbeda karena kadar bahan bakunya tidak sama:
- Bawang merah dan bawang bombay kuning memiliki kadar PRENCSO tinggi, sehingga paling "ganas" membuat mata berair.
- Bawang bombay manis (seperti Vidalia) memiliki kadar senyawa belerang yang lebih rendah, sehingga lebih jarang membuat orang menangis.
- Bawang putih hampir tidak pernah membuat orang menangis saat dikupas, karena ia tidak menghasilkan syn-propanethial-S-oxide dalam jumlah berarti — enzimnya diarahkan ke jalur pembentukan senyawa rasa yang berbeda (thiosulfinate seperti allicin).
Fakta menarik lainnya: ilmuwan bahkan berhasil menciptakan bawang dengan gen lachrymatory factor synthase yang ditekan, sehingga kandungan gas air matanya 7,5 kali lebih rendah dan panel penguji tidak lagi menangis saat mengirisnya. Bukti bahwa enzim LFS memang biang keroknya.
5 Trik Ampuh Agar Tidak Menangis Saat Mengiris Bawang
Memahami kimianya memberi kita senjata untuk melawan. Setiap trik di bawah ini bekerja karena mengganggu salah satu tahap reaksi di atas:
- Dinginkan bawang sebelum diiris. Suhu dingin memperlambat kerja enzim alliinase dan LFS, sehingga gas yang terbentuk jauh lebih sedikit. Simpan bawang di kulkas 30 menit sebelum dimasak.
- Gunakan pisau yang tajam. Pisau tumpul merobek dan menghancurkan lebih banyak sel bawang. Pisau tajam memotong bersih dengan kerusakan sel minimal — artinya lebih sedikit bahan baku yang bercampur dengan enzim.
- Iris di dekat air mengalir atau kipas angin. Gas syn-propanethial-S-oxide larut dalam air, jadi mengiris di bawah air mengalir atau menyalakan kipas kecil yang meniup gas menjauh dari wajah sangat membantu.
- Jangan iris bagian akarnya di awal. Konsentrasi senyawa belerang paling tinggi di sekitar pangkal akar bawang. Sisakan bagian akar untuk diiris paling akhir (atau buang).
- Pakai kacamata renang atau masker dapur. Terlihat konyol, tetapi kacamata yang menutup rapat melindungi kornea dari kontak langsung dengan gas — metode paling efektif secara mekanis.
FAQ: Seputar Bawang dan Air Mata
Apakah gas bawang berbahaya bagi mata?
Tidak. Jumlah asam yang terbentuk di permukaan mata sangat kecil — cukup untuk mengiritasi, tetapi jauh di bawah level yang bisa merusak jaringan mata. Kelenjar air mata justru dirancang untuk membilasnya. Ini adalah mekanisme yang sama dengan efek gas air mata (tear gas) versi alami, tetapi dalam dosis yang sangat ringan.
Kenapa ada orang yang sepertinya kebal dan tidak menangis?
Sensitivitas saraf kornea berbeda-beda pada setiap orang. Selain itu, kebiasaan juga berperan: koki yang setiap hari mengiris bawang dalam jumlah besar cenderung mengembangkan toleransi. Faktor teknis seperti pisau yang tajam dan teknik mengiris yang cepat juga mengurangi paparan gas.
Kenapa bawang yang dingin atau yang sudah lama dipotong tidak terlalu pedih?
Reaksi enzimatis ini bergantung pada waktu dan suhu. Bawang dingin menghasilkan gas lebih sedikit karena enzim bekerja lambat. Bawang yang sudah dipotong sejak lama juga sudah melepaskan sebagian besar gasnya ke udara, sehingga "amunisinya" sudah habis ketika kamu mengirisnya lagi.
Apakah kacamata atau lensa kontak bisa melindungi?
Kacamata biasa membantu sedikit, tetapi gas masih bisa menyelinap dari celah samping. Kacamata renang yang menutup rapat jauh lebih efektif. Lensa kontak justru tricky: awalnya memberi perlindungan kecil, tetapi setelah gas masuk, lensa menyulitkan air mata membilas iritan keluar.
Jadi, lain kali air matamu berlinang di dapur, ingatlah: kamu sedang menyaksikan perang kimia berumur jutaan tahun antara tanaman bawang yang mempertahankan diri dan mata manusia yang melindungi diri. Dan sekarang kamu tahu cara memenangkannya.


Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.