Berita yang Membalik Buku Teks Biologi
Di buku teks biologi, urutan cara hewan bergerak yang paling hemat energi sudah baku selama puluhan tahun: berenang paling murah, terbang di posisi kedua, dan berlari paling boros. Namun sebuah studi internasional yang dipublikasikan di jurnal Science pada 15 Oktober 2026 membalik urutan itu. Judul studinya: "Airflows redefine the cost of aerial transport in the wild".
Studi yang dipimpin oleh Max Planck Institute of Animal Behavior (MPI-AB) bersama Swansea University ini menemukan bahwa terbang bisa lebih murah daripada berenang — asalkan hewan terbangnya tahu cara "menunggangi" udara. Ini adalah studi terbesar yang pernah meneliti biaya perjalanan jarak jauh hewan liar di alam, bukan di laboratorium.
Eksperimen Alam Raksasa: 17 Tahun, 850 Burung dan Kelelawar
Alih-alih mengamati hewan di terowongan angin laboratorium, tim peneliti menganalisis data dari 17 tahun pelacakan GPS dan akselerometer pada 850 burung dan kelelawar dari 38 spesies, ditambah empat tahun data radar yang mencakup 12 kelas ukuran hewan terbang yang lebih kecil. Totalnya, 50 spesies burung dan kelelawar terlibat — mulai dari hewan seberat 12 gram hingga lebih dari 11 kilogram. Data dikumpulkan antara 2007 dan 2024, dan melibatkan 68 ilmuwan dari berbagai negara.
Dari data itu, para peneliti bisa membedakan kapan hewan sedang mengepakkan sayap (mahal secara energi) dan kapan sedang melayang (soaring, murah secara energi), serta mengukur bagaimana angin dan udara yang bergerak naik memengaruhi kebutuhan energi perjalanan.
"Bagi kita, langit mungkin hanya terlihat seperti latar belakang bagi hewan terbang, tetapi langit adalah sumber daya esensial yang bisa mengubah biaya perjalanan secara drastis," kata Dr. Martina Scacco, penulis pertama studi ini dari MPI-AB.
Kondor vs Angsa: Berat Sama, Tagihan Energi Beda Jauh
Perbandingan paling mencolok dalam studi ini adalah antara kondor Andes dan angsa terompet (trumpeter swan). Keduanya berbobot sekitar 11 kilogram. Menurut aturan laboratorium, hewan dengan massa tubuh sama harus punya tagihan energi yang sama. Kenyataannya tidak.
Kondor menempuh setiap kilometer penerbangan hanya dengan seperlima energi yang dibutuhkan angsa. Rahasianya: kondor melayang menunggangi arus udara yang bergerak naik (thermal) dan hanya mengepakkan sayap selama 0,1% waktu terbangnya. Angsa, sebaliknya, mengepak selama sekitar 99% waktu terbang.
"Aturan laboratorium mengatakan kondor dan angsa harus punya tagihan energi yang sama karena massa tubuhnya sama. Namun melihat bagaimana kondor melayang dan angsa mengepak, kita tahu jelas pasti ada perbedaan," ujar Prof. Emily Shepard dari Swansea University, penulis senior studi ini.
Kenapa Buku Teks Salah Selama Ini?
Peringkat klasik "berenang paling murah, terbang kedua, berlari paling mahal" berasal dari pengukuran laboratorium: hewan di kolam renang, di terowongan angin, dan di treadmill. Pengukuran seperti itu bersih dan terkontrol — tetapi mengabaikan satu hal besar yang ada di alam: udara itu bergerak.
Di alam liar, hewan terbang tidak sekadar "berenang di udara". Mereka memanfaatkan angin dan arus udara naik sebagai dorongan gratis. Begitu aliran udara diperhitungkan, peringkatnya berubah: terbang dengan melayang bisa menjadi cara bergerak yang paling hemat energi, bahkan mengalahkan berenang.
"Ketika hewan terbang punya akses ke aliran udara alami, mereka mendapatkan bahan bakar gratis dari langit. Burung yang melayang menggunakannya untuk bergerak dengan biaya lebih murah daripada berenang," kata Shepard.
Angka yang Sulit Dipercaya: 4,3 Juta Kilometer Hampir Tanpa Mengepak
Studi ini juga menemukan pola menarik: di antara burung yang melayang, spesies yang lebih berat justru umumnya lebih jarang mengepak dan biaya perjalanannya lebih rendah. Tujuh spesies burung hering menempuh total lebih dari 4,3 juta kilometer — setara mengelilingi Bumi lebih dari 100 kali — sambil mengepakkan sayap hanya 0,1% hingga 7% dari waktu terbang mereka.
Bayangkan: seekor burung melintasi benua demi benua nyaris tanpa mengepakkan sayap sekalipun, hanya dengan membaca dan menunggangi gerakan udara. Itu seperti bersepeda menuruni bukit yang tidak pernah berakhir.
Tidak Ada Makan Siang Gratis: Ada Harga yang Dibayar
Tentu, penghematan energi sebesar itu ada syaratnya. Burung melayang yang berukuran besar lebih terbatas dalam memilih kapan dan di mana mereka bisa terbang — mereka bergantung pada kondisi udara yang tepat, misalnya thermal yang hanya terbentuk saat cuaca dan waktu tertentu. Burung yang mengepakkan sayap memang membayar biaya energi lebih besar, tetapi bisa menghadapi kondisi yang lebih bervariasi dan tidak terlalu bergantung pada cuaca.
Ini adalah pertukaran evolusioner klasik: spesialisasi memberi efisiensi luar biasa, tetapi mengurangi fleksibilitas.
Kenapa Ini Penting: Perubahan Iklim dan Masa Depan Migrasi
Selain mengoreksi buku teks, temuan ini punya implikasi praktis. Kondisi atmosfer — pola angin, kekuatan thermal, cuaca ekstrem — semuanya dipengaruhi perubahan iklim. Jika "bahan bakar gratis dari langit" berubah polanya, biaya terbang pun berubah.
"Jika kondisi atmosfer berubah, begitu pula biaya terbang, dan karena itu bagaimana hewan memutuskan untuk bermigrasi dan membentuk komunitas," kata Dr. Kamran Safi, penulis senior dari MPI-AB.
Artinya, memahami ekonomi energi penerbangan burung bukan sekadar soal rasa ingin tahu: ini membantu ilmuwan memprediksi bagaimana rute migrasi dan persebaran hewan bisa bergeser di masa depan yang iklimnya berubah.
Sumber
- Martina Scacco et al., "Airflows redefine the cost of aerial transport in the wild", Science (2026). DOI: 10.1126/science.aee6550
- Lisa Lock, "Wild birds rewrite rules of flight efficiency: Study reveals power of 'free fuel' from the sky", Phys.org, 15 Oktober 2026. https://phys.org/news/2026-10-wild-birds-rewrite-flight-efficiency.html
- Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, "Wild birds rewrite rules for travel: Soaring on thermals can be the most energy-efficient mode of transport for animals", Research in Germany, 15 Oktober 2026. research-in-germany.org


Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.